KATA PENGHULU: Problem Dan Solusi Hidup Berumah Tangga

  • 01 Mei 2017
  • Oleh: dayudirga
  • Dibaca: 238 Pengunjung
KATA PENGHULU: Problem Dan Solusi Hidup Berumah Tangga

RESENSI BUKU

 

Judul Buku : KATA PENGHULU: Problem Dan Solusi Hidup Berumah Tangga

Penulis : H. Masruhan, S.Ag., M.Si.

Penerbit : PT. Info Suara Ummat, Denpasar, Bali

Cetakan, Tahun Terbit: I, Mei 2017

Jumlah Halaman : xii + 192 halaman

 

Mungkin masih teringat di pikiran kita, pada tahun 1992 pemerintah telah mencanangkan Hari Keluarga Nasional (Harganas), yang kemudian dikenal sebagai Hari Keluarga.

Pencanangan tersebut, diyakini memiliki dasar pikir yang kuat, mengingat begitu pentingnya posisi keluarga dalam membangun karakter bangsa. Meskipun tidak banyak yang mengetahui hari penting itu dan tidak menjadi hari libur nasional, paling tidak harapan untuk senantiasa memperhatikan keluarga karena peran pentingnya dalam mencetak generasi bangsa, selalu terdengung sepanjang harapan itu ada di seantero negeri ini.

Pemahaman apa yang dapat kita ambil dari posisi penting keluarga itu? Keluarga adalah komponen terkecil di masyarakat. Di dalam ruang-ruang pendidikan keluargalah, meminjam istilah sosiologi, terjadi proses internalisasi nilai-nilai. Pertanyaannya, keluarga yang bagaimanakah yang diidamkan dapat melakukan proses luhur tersebut? Jawaban yang ideal tentunya adalah ‘keluarga yang sehat’. Pertama, sehat karena memenuhi ketentuan legal atau tidaknya dimata agama dan perundang-undangan. Kedua, keluarga bahagia yang di dalamnya penuh gelimang keberkahan dari Yang Maha Kuasa.

Menyadari pentingnya hal itulah hadirnya buku “Kata Penghulu: Problem dan Solusi Hidup Berumah Tangga” yang ditulis oleh H. Maruhan, S.Ag., M.Si., seorang Penghulu Madya di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Denpasar Barat, menjadi sangat penting.

Buku tersebut, sebagaimana diakuinya, sesungguhnya merupakan catatan pengalaman Penulis dalam menangani banyak kasus pernikahan dan rumah tangga. Sejalan dengan perjalanan tugas (tour of duty) sang Penulis di bidang kepenghuluan. Yakni sejak tahun 1996, direkruitmen untuk posisi CPPN (Calon Pegawai Pencatat Nikah). Setelah itu ditugaskan sebagai kepala KUA Kecamatan Mengwi dan kepala KUA Kecamatan Kuta.

Buku yang terdiri dari 192 halaman tersebut, disajikan dalam 20 kasus, seputar problem pernikahan dan rumah tangga. Kasus-kasus tersebut dipaparkan berbentuk cerita pendek. Dengan bahasa yang sederhana dan alur cerita yang segar, pembaca disuguhi contoh kasus di dalam rumah tangga, sekaligus solusi atau maknanya bagi penguatan kehadiran keluarga bahagia. Dengan cara penguraian yang mengasikkan dan menghibur, buku tersebut layak dibaca oleh siapa saja, yang menginginkan wawasan dalam bidang tersebut.

Menariknya juga, sebagaimana judul buku “Kata Penghulu”, Penulis menempatkan dirinya ‘di dalam cerita’. Hal tersebut berarti, dalam kasus pendaftaran pernikahan, contohnya, ia adalah pejabat yang menerangkan atau memberikan informasi tentang pernikahan. Dalam kasus prosesi akad nikah, ia adalah penghulu yang menangani pernikahan tersebut. Selanjutnya, dalam kasus penasihatan rumah tangga, maka ia adalah seorang konselor.

Disadari bahwa dengan posisi Penulis seperti itu, paparannya memang menjadi sangat subyektif. Namun demikian, disanalah letak kekuatan buku tersebut. Di dalamnya ada problem, ada juga contoh solusinya. Sebagai seorang Penghulu, Penulis mengalami bagaimana menghadapi masyarakat dan memberikan solusi dari persoalan ummat, terutama menyangkut kepenghuluan tersebut. Dari segi materi, buku tersebut dipetakan menjadi: persoalan seputar pra-nikah (motivasi atau niat, syarat-rukun munakahat dan perundang-undangan), proses (ijab-qobul, walimahan, dan sebagainya) dan Problem dalam kehidupan berumah tangga (problematika membangun rumah tangga).

Dengan bahasa yang popular, ulasan makna (meaning) diberikan oleh Penulis dalam kerangka pemahaman bahwa pernikahan dan membangun rumah tangga yang bahagia, sakinah mawaddah warahmah itu, berkaitan langsung dengan permasalahan ideologis, hukum, sosial, dan lain-lain.  

Karya inovatif seorang Penghulu berupa tulisan, memang jarang ada. Itulah sebabnya, Kepala Bidang Bimas Islam Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Bali dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar (ibu Komang Sri Marheni, S.Ag., M.Si.), dalam kata pengantarnya di buku tersebut, menyampaikan apresiasinya, yang juga diharapkan bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi yang lain. #(Mym)#


  • 01 Mei 2017
  • Oleh: dayudirga
  • Dibaca: 238 Pengunjung

Artikel Terkait Lainnya

Komang Sri Marheni, S.Ag., M.Si

17

Feb

Liem Hauw

Sampah


17

Feb

Grace Anastasia

Jalan Rusak


17

Feb



Apakah informasi yang disajikan oleh Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar bermanfaat?