NIKAH SIRRI DAN PROBLEMATIKANYA

  • 24 Juli 2018
  • Oleh: dayudirga
  • Dibaca: 254 Pengunjung
NIKAH SIRRI DAN PROBLEMATIKANYA

 

Oleh: Masruhan, S.Ag., M.Si.  

(Penulis adalah Anggota Pokjahulu Kemenag Kota Denpasar)

 

Kenyataan, di zaman sekarang (zaman now), permasalahan administrasi adalah penting, sangat disadari oleh banyak orang. Aplikasi data secara elektronis yang sudah berlaku di banyak instansi pemerintah dan swasta, menumbuhkan kebutuhan akan tertib administrasi. Dalam arti yang sederhana, administrasi adalah pencatatan. Dalam kerangka itulah realita bahwa masih banyaknya terjadi pernikahan sirri di masyarakat merupakan hal yang berseberangan dengan hajat tersebut, yang sesungguhnya sangat penting untuk dicermati.

Pengertian

Nikah sirri, adalah istilah yang sangat popular di masyarakat. Meskipun di dalam referensi fikih tradisionil tidak banyak dikenal, jika ditelusuri, istilah tersebut memiliki rujukan dalam bahasa Arab, yakni dari kata sirrun yang artinya rahasia, sunyi, diam, tersembunyi sebagai lawan kata dari ’alaniyyah, yaitu terang-terangan (baca: Kamus Al-Munawwir (1997:626). Kata sirri, digabung dengan nikah, menunjuk kepada pernikahan yang dilakukan secara diam-diam atau tersembunyi. Mengalami perluasan makna, nikah sirri menunjuk kepada pernikahan yang memenuhi ketentuan syarat dan rukun agama namun tidak dicatatkan di lembaga pencatatan nikah (KUA atau Kantor Catatan Sipil). Masyarakat kita mengenal istilah lainnya untuk maksud yang sama yakni ‘nikah di bawah tangan’, ‘nikah tidak dicatat', ‘nikah tidak resmi’, dan 'nikah ustadz’.

Alasan-alasan Menikah Secara Sirri

Alasan terjadinya nikah sirri, sesungguhnya variasinya sangatlah banyak.

1) Hamil di Luar Nikah.

Budaya ‘kebebasan’ (permissive culture) yang massif saat ini, cenderung melahirkan remaja-remaja ‘salah asuh’. Adonan hedonisme dan kontrol diri atau keimanan yang lemah, diantaranya menyuburkan terjadinya kehamilan-kehamilan di luar nikah. Akibat jiwa dan pemahaman agama yang ‘kosong’ pula, kemungkinan rasionalnya, banyak keluarga yang menempuh ‘jalan pintas’ yakni menikahkan secara sirri putera-puteri mereka yang ‘kadung’ berbadan dua (baca: marriage by accident). Nikah sirri dianggap sebagai ‘solusi jitu’ yang tidak bertele-tele dalam konteks administratif dan instan dalam menutup aib.

2) Persepsi Nikah Mahal

Terkait biaya, pertama, menikah dipandang sebagai ‘peristiwa sekali seumur hidup’. Kelanjutannya muncul persepsi bahwa tidak afdhol jika gelaran acara pernikahan tidak secara ‘besar-besaran’ (baca: mewah). Kedua, ada biaya-biaya yang (kemungkinan besar) muncul terkait rangkaian pengurusan surat seperti keterangan belum menikah, N1-N4, dispensasi nikah sebelum masa 10 hari kerja dari camat, keterangan suntik TT dari puskesmas, dispensasi bagi anak di bawah umur dari PA, surat keterangan ijin menikah bagi WNA (Certificate of No Impediment to Marriage) dari konsulat jenderal termasuk jasa penerjemahan CNI. Kesimpulannya --- terlepas dari biaya resmi yang disetor ke Negara --- menikah dianggap sangatlah mahal --- (Berdasarkan Peraturan Pemerintah RI no. 19 Tahun 2015, pernikahan di balai nikah, di dalam jam kerja, biaya nol (gratis). Hanya yang di luar kantor dikenakan biaya yakni Rp. 600.000,-). Merasa memiliki kendala masalah biaya yang dipersepsikan mahal tersebut, memotivasi masyarakat untuk ‘lebih baik’ menikah secara sirri. Pernikahan sirri adalah pernikahan yang lebih irit, alias efisien.

3) Menikah Hanya Masalah Agama

Dalam beberapa hal, masih tertanam kuat di masyarakat, bahwa sahnya pernikahan tidak ada hubungannya dengan pencatatannya di KUA. Pencatatan, hanya dianggap ikhtiar yang berkaitan dengan hajat administratif, dalam hubungannya dengan legalitas Negara. Kegunaannya (buku nikah) hanya untuk mengurus akta kelahiran anak, dokumen kepegawaian bagi PNS, dan sebagainya. Kesadaran tersebut memotivasi dan menumbuh suburkan terjadinya pernikahan sirri, yakni cukup dengan terpenuhinya syarat dan rukun menurut agama. Dalam hal ini, peran aktif para ustadz dalam memotivasi terjadinya nikah sirri, masih banyak terlihat. (Penulis pernah mengungkap kasus peran tersebut di 2 (dua) buku karya Penulis: Kata Penghulu (2017) dan Meniti Keluarga Bahagia dari Bali (2017).

4) Mental Culas

Akibat jiwa materialistik manusia modern, banyak orang yang merasa senang untuk ‘lebih baik’ memberikan kompensasi jika kesibukannya merasa terganggu. Hal inipun menyentuh permasalahan administrasi. Daripada berurusan dengan hal yang dipandang rumit dan bertele-tele, ‘membayar jasa orang lain’ dipandang lebih menguntungkan. Terpola mental yang ‘culas’ tersebut, pilihan menikah secara sirri pun akan diambil jika ada kendala administratif, meskipun --- mungkin --- kadarnya sepele.

5) Kendala Adminstrasi Karena Status dan Izin

Masih banyak di masyarakat, kasus-kasus seperti janda atau duda yang hanya bercerai secara agama; status janda/duda mati yang sulit pembuktiannya karena tidak memiliki akta kematian; kehendak poligami tetapi tidak ada izin dari pengadilan; dan wali menolak menjadi wali nikah dan tidak ada penetapan wali adhol dari PA. Hal inipun menjadi alasan, mengambil pilihan untuk menikah sirri, terlebih jika disertai kondisi yang ‘kepepet’.

Paparan di atas, menunjukkan beberapa hal saja dari sekian banyak alasan masyarakat untuk mengambil pilihan menikah secara sirri, yang jika disederhanakan, bermuara pada kondisi yang ‘kepepet’, mental culas, dan pemahaman atau jiwa beragama yang dangkal. Patut menjadi perhatian kita bersama jika pernikahan yang mengabaikan pentingnya administrasi Negara ini masih menjadi pilihan favorit, maka bisa dipahami, bahwa grand desain Yang maha Kuasa yang menentukan bahwa menikah adalah ibadah dan memiliki jangkauan maksud yang panjang dan mulia berupa kebahagiaan, masa depan gemilang, generasi yang kokoh dan sebagainya, dalam kerangka capaian ‘hidup yang berkah’, derajat capaiannya menjadi dangkal, rendah, lemah dan tidak berkualitas. Padahal, bukankah Rasulullah SAW menganjarkan untuk mendesain umat dan generasi yang sebaliknya, yakni berkualitas dan tangguh baik dalam urusan dunianya maupun rohaninya. Wallohu a’lam

Bersambung..…


  • 24 Juli 2018
  • Oleh: dayudirga
  • Dibaca: 254 Pengunjung

Artikel Terkait Lainnya

Komang Sri Marheni, S.Ag., M.Si

Apakah informasi yang disajikan oleh Kantor Kementerian Agama Kota Denpasar bermanfaat?